welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome welcome Vie's Creation: PERKEMBANGAN MORFOLOGI KOTA PONTIANAK

Senin, 06 September 2010

PERKEMBANGAN MORFOLOGI KOTA PONTIANAK

Perlu kita ketahui, Kota Pontianak merupakan Ibu kota Propinsi Kalimantan Barat. Luasnya mencakup 107,82 Km2 yang terdiri dari 5 Kecamatan dan 24 kelurahan. Berdasarkan kondisi geografisnya, Kota Pontianak dilintasi oleh garis Khatulistiwa yaitu pada 0o02’24” Lintang Utara sampai dengan 0o05’37” Lintang Selatan dan 109o16’25” Bujur Timur sampai dengan 109o23’01” Bujur Timur. Ketinggian Kota Pontianak berkisar antara 0,10 meter sampai 1,50 meter di atas permukaan laut.

Kota Pontianak terkenal dengan hasil pertanian dan perkebunannya. Hasil inilah yang dijadikan Kota Pontianak sebagai komoditas utamanya dalam bidang perekonomian. Hasil pertaniannya antara lain padi, jagung, kedelai, dan lain-lain. Sedangkan hasil perkebunannya antara lain karet, kelapa sawit, kelapa, dan lidah buaya.

Dari jurnal tersebut, kita mengetahui bahwa keadaan atau morfologi Kota Pontianak sudah sangat memprihatinkan. Pontianak yang terletak di Pulau Kalimantan yang terkenal dengan hutan dan tanamannya sekarang beralih menjadi hutan gundul yang mengenaskan. Perusakan hutan yang salah satunya dengan pembakaran hutan sudah merajalela. Hutan yang beralih fungsi menjadi lahan penduduk sementara yang kmudian apabila sudah tidak produktif lagi lahan itu ditinggal begitu saja menyebabkan banyak terdapat lahan kosong yang tidak dimanfaatkan lagi.

Tidak ada lagi hati nurani manusia untuk melindungi dan menjaga kelestarian alamnya. Akibatnya Kota Pontianak pun mendapat imbas dari semua ini. Kota Pontianak banyak terdapat pemukiman penduduk dan bangunan-bangunan yang digunakan penduduk setempat khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya melakukan aktivitasnya. Sekarang penduduk Kota Pontianak setiap harinya harus menghirup udara kotor akibat pembakaran hutan yang sering terjadi.

Dengan demikian, morfologi dari suatu tempat, seperti: bangunan-bangunan dan keadaan alamnya harus diperhatikan dengan baik. Kita sebagai perencana pun harus mampu memanfaatkan keadaan morfologi yang ada dari suatu tempat untuk dapat merencanakan suatu tempat yang mampu memberikan keamanan dan kenyamanan dengan tetap memperhatikan keadaan alamnya. Hal itulah yang diharapkan dapat menjadikan suatu lingkungan hidup yang berwawasan lingkungan sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat.


Sumber:

http://motosuki.multiply.com/journal/item/271/Kota_ku_tersayang_Pontianak_dan_Krisis_nya_--_Bagian_3_end_--



Tidak ada komentar: